Jelang Festival Lamaholot Flores Timur; Teater dan Usaha Memuliakan Perempuan Adonara

By Admin Pariwisata 08 Sep 2019, 00:22:24 WIBSeni & Budaya

Jelang Festival Lamaholot Flores Timur; Teater dan Usaha Memuliakan Perempuan Adonara

Kawan Budaya, pagelaran Festival Lamaholot Flores Timur (FLFT) 2019 tinggal menghitung hari lagi. Terus, apa saja sih acara yang bakal digelar nanti? Nah, ini salah satu bocorannya. Di Festival Lamaholot Flores Timur – Nusa Tadon di Adonara tanggal 14 dan 15 September 2019 nanti, bakal ada pentas teater dari Sanggar Sina Riang, pimpinan salah satu tokoh teater perempuan Flores Timur, Ibu Veronika Ratu Makin. Mau tahu apa saja ceritanya? Simak ya.

Dalam sebuah kesempatan, saya senang bisa menggali cerita dari Mama Vero, demikian dia biasa disapa. Wanita kelahiran Lamawolo, Ile Boleng, 25 Desember 1967 ini sejak tahun 2014, mendirikan Sanggar Seni Budaya Sina Riang di Dusun Bele, Waiburak, Adonara Timur. Kecintaannya pada seni budaya, menurutnya justru tidak diwariskan dari kedua orang tuanya, Bapak Matias Sabon Ratumakin (alm) dan Mama Paulina Meme Sada yang adalah wiraswasta. “Ayah saya almarhum dan ibu adalah wiraswasta tulen, bagi mereka waktu adalah uang,” ujar istri dari Bapak Petrus Damianus Yami, seorang penyuluh pertanian di BPP Ile Boleng ini. Lalu dari mana bakat dan ketertarikannya pada seni dan budaya? “Mungkin dari kakek dan nenek,” lanjutnya. Mendapat kesempatan pentas di tingkat kabupaten Flores Timur seperti pada event kali ini, baginya adalah sesuatu yang sudah sangat sering. Bedanya, sekarang Mama Vero ‘bermain’ di kampung sendiri. Menjadi lebih menarik dan tertantang tentunya.

Untuk pementasan nanti, Mama Vero berhasil saya ‘paksa’ untuk sekedar membocorkannya. Anehnya, Mama Vero justru belum menemukan judul yang tepat untuk pentas teater yang akan ditampilkannya. Kok bisa? “Belum kasih judul yang pas, tapi berkisah tentang perjalanan hidup atau batin perempuan Adonara dalam perspektif Adonara,” tandas wanita yang pernah mengikuti Program Residency di Teater Garasi dari bulan Juli hingga Agustus 2017 di Jogjakarta ini.

Saya sedikit ‘memaksanya’ untuk bercerita tentang alur cerita teaternya. Dan berhasil. Hehe .. “Kisahnya mencertakan seorang perempuan yang suaminya mati di medan perang dan anak lelakinya mati di perantauan, tetapi dia tetap setia berbakti kepada suami dan suku lango karna tanggung jawab moril terhadap belis dan harkat dan martabat keluarganya. Dalam kisah ini, perempuan memuliakan dirinya sendiri seperti seorang ksatria, seorang pahlawan. Belis bukan menjadi beban tetapi dijadikan sebagai tanggung jawab moril hidupnya. Perempuan bangga menjadi perempuan karena melahirkan kehidupan sehingga apapun beban adat atau kehidupan sosial yang menghimpit, tetapi perempuan tetap tegar berjalan menapak hidup,” cerita ibu dari Mario, Galang, Louline, dan Dede Mathew ini bersemangat. Saya suka semangat seperti ini. Hehe ..

Bagaimana proses penggalian ide dan inspirasi itu sendiri?

“Karena saya perempuan Adonara, hehe ...” jawabnya pendek. Mama Vero mengaku sebagai anggota masyarakat, dia tentunya terlibat dalam kehidupan sosial secara langsung, tinggal di tengah-tengah perempuan yang sebagian besarnya adalah para janda. Dan sebagai seniman, pengalaman-pengalaman itu lalu diresponnya melalui sebuah pertunjukkan teater. “Menurut saya, teater adalah ruang edukasi masyarakat,” simpul wanita yang juga merangkap sebagai sutradara, penulis skenario, dan penata musik ini. Komplit deh bu! Hehe.

Mama Vero, melalui pentas ini, sungguh sangat berharap bahwa penonton dapat menangkap pesan moral di balik pentas ini dan menjadikannya sebagai sebuah permenungan hidup. “Di balik budaya patriarki yang membuat perempuan tidak bisa menjadi nomor satu, tetapi justru perempuan adalah sutradara di balik layar kehidupan manusia, so jangan remehkan perempuan ya!?” canda wanita yang di sela kesehariannya berteater juga membuka usaha salon dan katering ini.

Untuk kebutuhan pementasan ini sendiri, Mama Vero membawa rombongan yang cukup besar dari dusun Bele yakni 7 perempuan dewasa, 8 anak sekolah, 10 anggota paduan suara, 3 orang pemusik live, dan 1 orang kendali play back. ”Latihannya sendiri sudah dilakukan sejak awal bulan Agustus ini,” ungkapnya wanita yang mengaku mendapat dukungan penuh dari sang suami dalam dunia teater ini.

Kehadiran beberapa Seniman Mengajar pada beberapa kesempatan yang lalu juga diakuinya sangat membantu menambah wawasan pengetahuannya tentang ilmu teater.

“Mba Aik dan Mas Ardy, dua anggota Seniman Mengajar ini, singkat tapi padat, dan sangat bermanfaat. Mba Aik memoles bagian keaktoran, sementara Mas Ardy mengurusi musik. Kata mba Aik, teksnya sudah kuat sekali, asal diimbangi dengan eksekusinya di panggung,” lanjut Mama Vero bersemangat. Hasilnya, Mama Vero pun mengaku menemukan sebuah sentuhan baru berupa unsur simbol dan gerakan teatrikal tentang filosofi lidi dan teatrikal perempuan dapur yang ditarikan sendiri oleh penampil-penampil muda dari sanggarnya yang melukiskan seruan perdamaian, bahwa perempuan sebagai kunci kerukunan dalam keluarga besar suku.

“Perempuan harus jadi pemersatu, bukan provokator!” garis bawahnya jelas. Apalagi pelakor ya bu!? Hehe ..

Mengurus dan mengatur semua hal tentang teater bukanlah perkara mudah. Itupun diakui Mama Vero.

“Pendanaan!” jawabnya lebih pendek lagi ketika disinggung mengenai kendala terbesar dalam mempersiapkan pementasan teater ini nanti. Menurutnya, perhatian pemerintah, baik desa dan kecamatan masih sangat minim untuk mereka padahal sanggar Sina Riang tampil mewakili desa dan kecamatan tempat mereka berada.

Meski demikian, Mama Vero tetap berusaha menyemangati para penampil yang dilatihnya. “Harus kompak dan solid berorganisasi, kedisiplinan, toleransi, susah senang sama-sama rasakan, harus transparansi dalam segala hal, apalagi menyangkut doi,” tegas wanita yang juga terlibat dalam pentas Peer Gynts di Larantuka beberapa bulan yang lalu bersama seniman-seniman Asia dan Teater Garasi ini.

“Rogoh kocek sendiri dulu, nanti dapat doi baru potong, sisanya bagi sama rata. Kalau ada lebih, maso tabungan sanggar,” lanjutnya optimis.                                                                                                                                                     

Menurut wanita yang juga pernah tampil bersama Nara Teater yang dipimpin seniman Flores Timur, Pak Silvester Hurit ini mengaku pengalamannya selama dua tahun ini sungguh memperbanyak pengetahuannya tentang teater dan berharap Sanggar Sina Riang dapat menjadi bagian dari perkembangan itu.

Bicara soal Festival Lamaholot Flores Timur 2019, secara khusus Mama Vero menyampaikan harapan yang sangat positif. “Semoga terus berkesinambungan, agar semangat merawat budaya  kita terus bergelora. Pasti ada dampaknya ke sektor lain seperti yang sedang digalakkan Pemda Flores Timur saat ini, yakni sektor pariwisata,” tutup wanita yang mengaku tidak punya pendidikan khusus di bidang teater ini.  

Penasaran dengan pentas teater ini? Pastikan Anda datang dan menjadi bagian dari kemeriahan ini ya.

Pai Ta’an Tou!

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Apakah Informasi Website Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, bermanfaat bagi Anda?
  Tidak Bermanfaat
  Kurang Bermanfaat
  Sangat Bermanfaat
  Bermanfaat

Komentar Terakhir

  • proxarogs

    qss [url=https://freecasino888.us.org/#]free casino games[/url] lbw ...

    View Article
  • Paulurind

    <a href="http://cialisq.com/">buy generic cialis</a> <a ...

    View Article
  • canadian pharmacies

    <a href="http://canadianpharmaciesoffer.com/">ph archarmy online no ...

    View Article
  • dogintyspoott

    dfq [url=https://casinoavenue.us.org/#]free casino games[/url] ...

    View Article