Perayaan Semana Santa Ditiadakan, Uskup Larantuka; Kita Perlu Memberi MAKNA BARU.

By Admin Pariwisata 23 Mar 2020, 11:26:24 WIBWisata Religi

Perayaan Semana Santa Ditiadakan, Uskup Larantuka; Kita Perlu Memberi MAKNA BARU.

Ket. foto : Prosesi Semana Santa. Sumber : Disparbud Flotim.

Mewabahnya Virus Corona (Covid-19) telah memberi efek yang luar biasa terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalamnya adalah tradisi devosi keagamaan yang ada di Larantuka, Flores Timur, yakni prosesi Jumad Agung yang juga lazim disebut Semana Santa.

Menghadapi dan mengantisipasi penyebaran yang lebih luas lagi di Flores Timur dan Lembata yang menjadi wilayah keuskupan Larantuka, Uskup Larantuka, Fransiskus Kopong Kung mengeluarkan Surat Keputusan Uskup Larantuka Tentang Perayaan Semana Santa Tahun Ini (2020) di Larantuka (Hal 1, Hal 2, Hal 3). Surat Keputusan bernomor KL 144/V.1/III/2020 itu ditujukan kepada para pastor, Biarawan/ti, dan seluruh umat Keuskupan Larantuka dan sudah melalui percakapan dengan Panitia Perayaan Semana Santa, Pihak Kerajaan Larantuka, Confreria Renha Rosari, Para Pastor dari kelima Paroki Kota bersama Ketua Dewan Pastoral Paroki, Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur.

Dalam surat tersebut, Uskup Larantuka mengajak semua umat untuk membangun sebuah solidaritas untuk suatu gerakan untuk mengatasi dan menanggulangi virus ini secara bersama-sama, serta tetap tenang dan tidak panik sembari berdoa untuk mereka yang sedang berjuang dengan sakit yang dihadapi akibat virus ini dan keselamatan kekal bagi mereka yang telah meninggal.

Pada point lainnya, Uskup Larantuka menekankan bahwa “Dalam kaitan dengan Perayaan Tradisi Semana Santa di Larantuka, kita perlu memberi MAKNA BARU Perayaan Semana Santa sesuai situasi konkrit saat ini yang dihadapi dunia, juga dihadapi oleh negara kita, wilayah dan masyarakat banyak. Kita tetap merasa bangga dengan tradisi kita yang unik di Larantuka, kita mencintai tradisi Semana Santa. Saat ini kita sebetulnya berada pada situasi Yesus Tuhan yang disalibkan. Yesus yang menderita sengsara di salib,  dan wafat di kayu salib, karena Dia mau membela dan menyelamatkan umat manusia. Yesus solider dengan semua orang yang sakit dan menderita, Tuhan solider dengan kita semua yang lemah, rapuh dan berdosa. Yesus datang untuk membebaskan dan menyelamatkan kita. Di mata Tuhan, nilai kesehatan dan keselamatan manusia adalah sangat penting. Maka tidak segan-segan, Yesus menyembuhkan orang sakit, meskipun pada hari Sabat. Yesus dianggap melanggar hukum Sabat, melawan tradisi Yahudi, karena menyembuhkan orang pada hari Sabat. Kepada orang-orang Farisi, Yesus berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.”(Mrk. 2 : 22-27).”

Pada point lainnya menyangkut perayaan Semana Santa, Uskup Larantuka, Fransiskus Kopong Kung, menyatakan bahwa “Tahun ini, perayaan Semana Santa dengan devosi-devosi khusus yang terjadi di Larantuka, Wureh dan Konga, dan banyak tempat lainnya kita tiadakan. Perayaan Minggu Palem dengan arak-arakan daun palma, tradisi khusus di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana, di Kapela Tuan Menino, dan di Wureh, Konga, dll, kita batalkan. Juga tidak diadakan prosesi laut untuk mengantar Tuan Menino, upacara cium salib Yesus di Gereja pada Jumat Agung, dan prosesi Jumat Agung keliling kota, kita batalkan. Kita mengadakan prosesi batin dalam diri kita masing-masing dengan mengadakan puasa, doa, pantang dan matiraga pribadi dan dalam keluarga kita masing-masing.”

Sementara itu, pada point berikutnya dalam Surat Keputusan ini pula, Uskup Larantuka menekankan bahwa “Misa Perayaan Pekan Suci yang dimulai dengan Hari Minggu Palem, dan Tri Hari Suci, (Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Paskah, dan Minggu Paskah) tetap dirayakan di Katedral Larantuka dan gereja-gereja paroki, tanpa kehadiran umat.”

Umat juga dihimbau untuk tetap tinggal di rumah masing-masing mengadakan doa dan ibadah keluarga di rumah (doa Rosario, membaca dan merenungkan Kitab Suci), berdoa bagi kepentingan gereja, dunia, bangsa dan negara, dan memohon segera berlalunya wabah ini.

Menyadari bahwa Surat Keputusan ini mungkin saja menimbulkan polemik di kalangan umat umumnya, Uskup Larantuka lalu mengajak umat untuk “ikut serta dalam misteri salib Tuhan, turut berbelarasa dengan penderitaan dunia dan bangsa, saya mengajak agar kita rela mengorbankan kepentingan diri dan tradisi kita untuk keselamatan umat manusia, termasuk diri kita serta keluarga kita masing-masing.”

Menanggapi Surat Keputusan ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur, Apolonia Corebima, SE.M.Si, menyambut positif keputusan ini, bahwasanya ini adalah bentuk kerjasama yang baik antara pihak Gereja dan Pemerintah dalam menghadapi wabah yang begitu cepat merebak ini. “Yang paling penting adalah menyelamatkan orang, dan patut diapresiasi adalah besarnya kepedulian Gereja terhadap keselamatan manusia,” ungkapnya (23/02/2020).

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment