Pulau Waibalun

By Admin Pariwisata 08 Jun 2018, 18:53:19 WIBWisata Alam

Pulau Waibalun

Merupakan sebuah pulau kecil yang terletak diperairan wilayah Kelurahan Waibalun. Jarak dari garis pantai lebih kurang 15 menit dengan menggunakan perahu tradisional. Sebagai sebuah pulau kecil, puau waibalun dapat dikelilingi dalam waktu tempuh kira-kira 25 menit menggunakan perahu dayung.

Pulau Waibalun sebelumnya dikenal dengan nama “Nuha” yang dalam bahasa Lamaholot artinya “Pulau Kecil”. Penamaan “Nuha” ini diperkirakan sekitar tahun 1400 sebelum adanya pemukiman masyarakat Waibalun. Kemudian setelah adanya pemukiman masyarakat Waibalun kurang lebih sekitar tahun 1500, baru mulai disebut/dikenal dengan “Nuha Waibalun”. Pulau Waibalun sampai dengan saat ini, oleh  masyarakat Waibalun (Kelurahan Waibalun) menyebutnya dengan nama “Nuha Waibalun”.

Oleh masyarakat setempat (orang Waibalun), “Nuha” memiliki mitos yang sangat erat kaitannya dengan situasi tertentu. Sejak dahulu kala, “harin” (sejenis spesis ular laut), diyakini sebagai “penjaga Nuha”. Terdapat sekian ratus bahkan ribuan “harin” yang menetap di balik batu-batu sekeliling pulau. Korelativitasnya dengan kehidupan masyarakat setempat sangat erat, hal mana dapat dibuktikan melalui beberapa pengalaman unik yang dialami oleh masyarakat, baik itu hal-hal positif maupun hal-hal yang dianggap tabu. Sebagai missal. “harin” akan mengembalikan “bedil” (senapan tradisional) yang hilang pada saat “menembak” ikan di seputaran perairan Pulau Waibalun. Uniknya perlengkapan nelayan tersebut dikembalikan sendiri oleh “harin” langsung ke rumah pemiliknya.

Hal unik lainnya adalah bahwa apabila orang yang berkunjung ke Pulau Waibalun, melakukan “pelanggaran” seperti mengambil kayu atau batu dari “Nuha”, maka pada malam harinya “harin” akan datang langsung ke rumah yang bersangkutan sebagai peringatan untuk mengembalikan barang-barang tersebut. Walaupun memiliki jumlah yang cukup banyak, sejauh ini “harin” belum” pernah mencederai para pengunjung.

Di samping itu, terdapat dua satwa lain yang diyakini pula sebagai penjaga “Nuha”, yakni seekor burung elang dan seekor ikan hiu. Setiap peristiwa kehamilan yang terjadi dalam lingkungan komunitas masyarakat Waibalun akan selalu ditandai dengan bunyian burung elang. Sedangkan ikan hiu, memiliki peran sebagai pengawal perairan di sekita Pulau Waibalun.

Kedekatan jaraknya dengan wilayah daratan sangat berpengaruh terhadap daya tarik alam Pulau Waibalun. Khusus pada saat-saat liburan, Pulau Waibalun menjadi obyek yang selalu dikunjungi oleh masyarakat sekitar bersama keluarga dengan menggunakan sampan tradisional. Kondisi air lautnya masih sangat bening dan belum terkontaminasi oleh polusi sampah, menjadi daya tarik untuk berenang dan menyelam.

Sementara tepat di puncak pulau, terdapat Patung Yesus Gembala Yang Baik dengan ukuran tinggi 13 meter. Semenjak keberadaan patung tersebut, Pulau Waibalun menjadi alternative taman doa bagi para peziarah Semana Santa.

Untuk mencapai pulau waibalun dapat menggunakan jasa perahu atau sampan masyarakat setempat.

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Apakah Informasi Website Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, bermanfaat bagi Anda?
  Tidak Bermanfaat
  Kurang Bermanfaat
  Sangat Bermanfaat
  Bermanfaat

Komentar Terakhir

  • Alat musik Bali

    tidak ada beritanya ...

    View Article
  • urgence Plombier Issy Les Moulineaux

    Thanks ...

    View Article
  • urgence plombier neuilly sur seine

    Great ...

    View Article
  • urgence plombier paris 4

    https://www.ok-plombier.com/nos-agences-de-plomberie/neuil ly-sur-seine-92200/ ...

    View Article