Ritual Brauk di Desa Kelike Aimatan Solor

By Admin Pariwisata 10 Agu 2018, 20:32:22 WIBWisata Budaya

Ritual Brauk di Desa Kelike Aimatan Solor

Brauk adalah upacara syukuran atas hasil panen yang dimiliki masyarakat Desa Kalike Aimatan Solor, Kabupaten Flores Timur. Upacara yang rutin digelar setiap tahun seusai panen itu emiliki nilai ekonomi, sosial, budaya, dan persaudaraan yang tinggi.

Brauk diawali dengan ritual elo, penjadwalan. Para tetua adat dipimpin kepala suku, duduk bersama di rumah adat, membahas posisi Bulan, dan menentukan kapan berauk digelar. Pembahasan dilakukan malam hari. Ketua adat sepanjang malam di awal bulan Juni, memantau posisi Bulan .Jika posisi Bulan persis di kisi-kisi atap rumah, ketua adat pun menentukan waktu berauk digelar.

Menjelang puncak perayaan berauk, dilakukan beberapa ritual, antara lain tada tuakeli (iris tuak) untuk para leluhur. Leluhur dipanggil untuk ikut hadir. Kemudian seo wata blolon untuk para leluhur, dan dibagikan kepada setiap anggota suku. kemudian disimpan di setiap sudut rumah dan setiap sudut ladang atau kebun sebagai simbol kesuburan pada musim depan. Puncak brauk disebut nara gere ditandai dengan tarian bersama menggunakan parang dan mengenakan pakaian adat.

Para kaum perempuan menyediakan nasi yang diambil dari hasil panen terbaik. Setelah dimasak, nasi dibentuk sedemikian rupa menjadi bulatan-bulatan kecil sebesar tempurung kelapa, disebut lori.Setiap laki-laki mendapatkan lima lori. Kalau ada lima anak laki-laki dalam satu keluarga, berarti ada 25 lori. Lori merupakan simbol jiwa, roh, rezeki, persaudaraan, dan perlindungan dari leluhur.

Tiap anak laki-laki wajib mendapatkan bagian dari lori itu. Jika tidak, diyakini, dia akan mendapat hukuman adat, tidak beruntung sepanjang tahun.Laki-laki di perantauan pun mempunyai bagian dalam lori. Para leluhur dimohonkan agar terus menyertai dan melindungi orang bersangkutan selama berjuang mencari rezeki atau menuntut ilmu di perantauan.

Keberhasilan mereka, kebesaran, dan keharuman nama leluhur.Lori kemudian dibawa ke tengah namang (halaman utama), tempat berkumpul semua anggota suku. Nasi dicampur lalu dibagikan secara merata. Kaum perempuan menyiapkan piring dari daun lontar yang disebut monga.Selesai pembagian nasi, ketua adat mengucapkan syukur dan terima kasih kepada leluhur dalam bentuk syair tua.

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. Jasa SEO Indonesia Terbaik Bergaransi Uang Kembali 15 Nov 2018, 05:41:03 WIB

    Tampilan web Anda sangat bagus dan menarik. Great Job!

View all comments

Write a comment

Online Support

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Apakah Informasi Website Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, bermanfaat bagi Anda?
  Tidak Bermanfaat
  Kurang Bermanfaat
  Sangat Bermanfaat
  Bermanfaat

Komentar Terakhir

  • Alat musik Bali

    tidak ada beritanya ...

    View Article
  • urgence Plombier Issy Les Moulineaux

    Thanks ...

    View Article
  • urgence plombier neuilly sur seine

    Great ...

    View Article
  • urgence plombier paris 4

    https://www.ok-plombier.com/nos-agences-de-plomberie/neuil ly-sur-seine-92200/ ...

    View Article