Trifosa Evria pada Festival Bale Nagi 2019 : Merawat Tari di Flores Timur

By Admin Pariwisata 24 Apr 2019, 04:21:37 WIBSeni & Budaya

Trifosa Evria pada Festival Bale Nagi 2019 : Merawat Tari di Flores Timur

Pesta Nelayan di Waibalun sebagai bagian dari rangkaian Festival Bale Nagi 2019 cukup berbeda pelaksanaannya tahun ini. Bila pada tahun sebelumnya hanya diadakan perayaan misa di pulau Waibalun, maka pada tahun ini event ini juga melibatkan beberapa komunitas yakni Komunitas Taman Baca Hutan 46 Waibalun dan Lopo Kopi sebagai penyelenggara selain komunitas nelayan yang selama ini menggelar event tahunan ini di Waibalun. Selain itu pula, event ini pun digelar dalam dua waktu yang berbeda pada hari yang sama, yakni pada pagi dan sore hingga malam hari. Pada pagi hari, Pesta Nelayan berisikan acara perayaan misa syukur yang dipimpin oleh YM Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, lomba helen ilek (lomba mencari batu yang dilempar ke laut bagi anak-anak), dan berwisata bersama ke pulau Waibalun. Sedangkan pada sore hingga malam hari, acara pun digelar dengan suasana yang berbeda; lebih ceria dan santai, yakni Pesta Bakar Ikan yang menghadirkan sajian kuliner lokal, ikan bakar dan kopi. Di bawah tema, ‘Lautku Bersih, Lautku Kaya,’ acara ini dirancang dan didesain agar Pesta Nelayan tidak sekedar menjadi milik para nelayan saja namun juga menjadi wujud syukur dan kebersamaan antara nelayan dan masyarakat umum lainnya untuk menjaga dan melestarikan kebersihan di laut.

Sebuah pertunjukkan yang sangat menarik perhatian malam itu adalah tarian Wastra Lamaholot yang dilakoni oleh Trifosa Evria, seorang penari kontemporer. Dilatar belakangi laut yang tenang dengan pantulan cahaya dari bulan serta dipagari payung-payung kayu kecil aneka warna, Trifosa lentik menari. Dibalut kain sarung tenunan khas Waibalun, Trifosa meliuk-liuk dan mempertunjukan kelincahannya menari.

Trifosa pun berbagi cerita setelah menamatkan tariannya. Gadis kelahiran 1986 ini mengaku aksi menarinya dilakukan secara spontan dan kebetulan saja karena diminta oleh salah satu panitia    yang sudah dikenalnya dengan baik yakni Karolus Larantukan yang sama-sama dikenal sebagai aktivis literasi di NTT. “Ga ada rencana karena Fisa di Larantuka hanya untuk Paskah,” terangnya.

Wanita yang pernah menghabiskan pendidikannya setara SMP di Larantuka ini pun mengaku senang karena diberi kepercayaan untuk menari, khususnya di Larantuka karena dia mulai menyukai tarian sejak kelas III SD ketika dilatih oleh seorang guru di SDK Larantuka III.

Triforsa mengungkapkan bahwa Wastra Lamaholot yang dimainkannya itu mengisahkan tentang kehidupan perempuan sebagai seorang penenun di mana tiap motif yang diuntai ada estetika seperti ketangguhan, kelembutan, status sosial juga pasangan hidup, dikerjakan dengan cinta dan sepenuh jiwa sebagai penghargaan pada semesta yang memberi kehidupan dan meninggalkan pesan agar manusia selalu menjaga ibu bumi dan bapak langit.

Tarian kontemporer yang ditarikan Trifosa memang belum terlalu dikenal oleh masyarakat Flores Timur yang memang lebih banyak bercirikan tarian massal. Menurutnya, masyarakat masih terbiasa dengan sesuatu pola monoton. “Coba para seniman lokal memodifikasi gerakan tidak harus langsung kontemporer tapi tarian tradisional itu sedikit dibuat lebih atraktif dan menambah gerakan,” jelas wanita yang pernah menarikan dua karya di Istana Solo (Pura Mangkunegaran) dan dipercaya menjadi orang yang dikalungi kain tenun oleh Ibu Ratu Solo itu.

Perform di Larantuka menurutnya telah menambah pundi-pundi pengalaman. Ketika diminta untuk menari lagi di Taman Kota FF Larantuka dalam event Pameran Tenun Lokal, Trifosa menuturkan antusias masyarakat Larantuka cukup tinggi. “Tadi melijat mereka begitu antusias dan semangat karena Fosa punya konsep sendiri dalam tata panggung, membuat rasa penasaran, menahan mereka di situ, sesuatu yang baru dan mereka menikmati,” ceritanya.

Triforsa sendiri akan kembali ke Jogja, melanjiutkan kuliahnya, dan bekerja dengan fokus pada sosial literasi untuk anak NTT (Buku Bagi NTT), literasi untuk anak jalanan di Titik OKM Jogja (Omah Kreatif Jogja), peduli anak HIV/AIDS (Perempuan Tato Indonesia), belajar bahasa Sansekerta Jawa Kuna dan membatik tulis di Rumah Budaya Segaragunung Jogja, serta aktif di Dolanan Anak Jogja.

Melihat kecintaannya pada tari, Forsa malah mengaku tidak pernah belajar menari melalui pendidian fornal. “Kuliah ga nyambung dengan kecintaan Fosa sama tari. Fosa lulusan S.Kep.,Ns alias perawat, belajar tari secara otodidak dan dari teman-teman penari yang Fosa kenal.”

“Wah, ibu perawat nih,”

“Merawat tari,” balasnya penuh canda.

Terima kasih Fosa, telah merawat tari di Flores Timur.

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Apakah Informasi Website Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, bermanfaat bagi Anda?
  Tidak Bermanfaat
  Kurang Bermanfaat
  Sangat Bermanfaat
  Bermanfaat

Komentar Terakhir

  • Aaronautox

    [url=http://cialiscost.us.com/]order cialis[/url] ...

    View Article
  • Aaronautox

    [url=http://azithromycin.wtf/]azithromycin[/url] [url=http://hydrochlorothiazide.institute/]as ...

    View Article
  • Alanurind

    [url=http://stromectol1.com/]stromectol[/url] [url=http://acyclovirz.com/]buy acyclovir[/url] ...

    View Article
  • Amyurind

    [url=http://viagrasf.com/]viagra soft[/url] ...

    View Article