LARANTUKA, FLORESPOS.net-Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (KTYME) dan Masyarakat Adat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menggelar kegiatan Training of Trainer (ToT) Fasilitator Sekolah Lapang Kearifan Lokal (SLKL) Kedaulatan Pangan Masyarakat Adat, di Kabupaten Flores Timur, NTT.

Kegiatan ToT bagi 40 pandu budaya berasal dari Kabupaten Flores Timur dan Lembata hasil SLKL tahun 2023 itu berlangsung selama tiga hari mulai Selasa hingga Jumat (5-8/3/2024), dipusatkan di Aula Kantor Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Plt Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Andreas Kewa Aman mewakili Penjabat Bupati Flores Timur, Doris Alexander Rihi, Selasa (5/3/2024).

Hadir sejumlah kurator, yakni Yanu Endar Prasetyo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Jurnalis Kompas Ahmad Arif dan para praktisi budaya seperti Rinto Tri Hasworo, Ade Tanesya, Rudi Heru Suteja.

Hadir pula perwakilan unsur pemerintah dari Kabupaten Sikka dan Alor serta Badan Pemajuan Kebudayaan Wilayah XVI Provinsi NTT.

Kegiatan ini merupakan upaya Kemdikbudristek untuk meningkatkan status pandu budaya menjadi fasilitator yang akan merekrut dan mendampingi 70 calon pandu budaya baru tersebar di pulau-pulau kecil di Kabupaten Sikka, Alor dan Flores Timur.

Kegiatan Sekolah Lapang Tahun 2024 bertujuan membangun pengelolaan pengetahuan tentang budaya, keragaman dan kedaulatan pangan sebagai pembelajaran bersama masyarakat adat untuk mengurangi ketergantungan pada pangan non-lokal serta mendorong gerakan kebudayaan melalui partisipasi orang muda dalam mendorong kedaulatan pangan di pesisir dan di pulau-pulau kecil.

Pada ksempatan itu, Kepala Desa Waibao Hery Aran membeberkan segala potensi budaya, tradisi dan adat-budaya Desa Waibao.

Menurut dia, Desa Waibao, kaya dan beragam termasuk budaya gotong-royong, konsep penghematan, konservasi, pemanfaatan hasil laut dan hutan yang ramah lingkungan, budaya kejujuran dari tradisi pasar bisu yang mesti dihidupkan kembali dalam konteks kehidupan hari ini.

Yani Heryanto, Pamong Budaya Ahli Muda yang mewakili pihak Kemdikbudristek mengatakan program SLKL yang sudah berjalan di Flores Timur dan Lembata sejak tahun 2023.

Program tersebut kemudian dilanjutkan tahun 2024 dengan jumlah dan jangkauan yang lebih luas diharapkan memiliki kontribusi terhadap kedaulatan pangan masyarakat. Empat fasilitator terbaik akan diapresiasi dan diundang ke Jakarta pada bulan Mei 2024.

Penjabat Bupati Flores Timur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Plt Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Andreas Kewa Aman SH menyatakan bahwa apa yang dilakukan Kemdikbudristek ini sejalan dengan gerakan Nona Sari Setia yang merupakan gerakan tanpa nasi sehari. Gerakan tersebut dicanangkan Pemda Flotim sebagai upaya cerdas atasi inflasi akibat naiknya harga beras.

Sementara Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Servulus Satel Demoor, S.Hut yang hadir mendampingi Plt. Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan menyampaikan dukungan terhadap segala bentuk kegiatan yang bersifat penguatan identitas budaya masyarakat Flores Timur.

“Terima kasih kepada pihak Kemdikbudristek yang dalam beberapa tahun terakhir memberikan perhatian bagi Kabupaten Flores Timur,” katanya. *

Penulis: Wentho Eliando I Editor: Anton Harus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *